A thought

Selasa, 20 Agustus 2019
When i look again at my whole, it all seems black. Although the world i know is definitely composed by black and white-- but as i grow older, it all seems to mix to the point i don't know which one should be right and wrong. 

The darkness has been engulfing me since i don't know when. I've been seeking a light despite the darkness itself possibly my delusion.

The dreams i was carried on turns out merely a fulfillment towards the aching pain all the time. 

The stage and stairs i've been climbing upon just to distract my focus on something looks worth. 

I can't deny that i want to be a sunshine for the people. 
I want the world to just get better in a flick of second. 
An idealism without considering the manners of how things really work on. 

I was standing, alone. I wish for it myself. Just, i never realize it. I'm never alone.

The brimming stars once became far as the sky i held is manifested into distances with me. 
I looked upon it time by time, pretended to ignore the ache in my chest. 

Sometime myself just got worse. I felt really alone. But i know for most, i hate the word 'lonely' said by someone who in reality, just can't see the bright that shines upon them in the universe. 

I realized myself i had a lot of time glaring at the darkness. Honestly, i still feel everything must be redeemed. But at this point, i feel it won't fruit any use again for myself. 

I echoed to the me hundred times. I want to survive. 

Arin & Ida (1a)

Minggu, 11 Juni 2017
Kelam yang dimakan api fatamorgana, yang berjalan seiring waktu.. kadang membuatku tersedu. Di pojok-pojok dinding polos yang usang, berjalan semut-semut yang tak berakal sepertiku--tapi aku merasa aku begitu jahat ketimbang rentetan semut yang sekadar hewan.

"Rin, kamu udah selesain deadline untuk besok belum?" usik Ida sambil mengunyah kue apem di mulutnya.

"Santai aja lah. Nanti malem kan, bisa." jawabku santai..ah aku sudah menyelesaikan yang satu itu sedari minggu lalu. Cuma orang ini saja yang sok tahu, katanya aku semalas itu? Tidak..

Aku kan, orang paling telaten.

Cemilan yang dibawa Ida hanya mengganggu kamarku. Aku tahu makanan-makanan itu nanti hanya menyampah saja, dia tak akan membereskannya. Dia hanya menumpang satu-dua kali,  lalu pergi.
Kadang aku berpikiran layaknya psycho. Tapi aku tak ingin menjadi sosok gila.

"Kau harus terbiasa sama pop mie yang cepat dibuat ketimbang kue apem yang setidaknya warung itu jauh dari rumahku, da. Berhenti membawanya ke sini, hanya mengalihkan kesenanganku saja." ujarku ketus.

Mukanya mengernyit mengatakan dengan isyarat khasnya,
'apa-salah-kue-apem?' atau mungkin 'itu-kan-bebas-aku-mau-makan-apa'

Aku sudah mengenalnya selama 2 tahun. Aku paling mengetahui dia.
Dia tak perlu menyembunyikan semuanya.


- bersambung

Malam Kelabu

Senin, 02 Januari 2017
(cerpen yang kubuat ketika Ramadhan tahun 2016-an, kemarin hanya menjadi draft.)


Ramadhan, 1437 H

Enggan Ira menetap, enggan ia terlelap. Bulan suci telah datang, orang berbondong-bondong pulang..
Kembali ke identitas mereka, pada malam mengusik itu.

"Antusias sekali malam ini, Ra! Bulan pun rasanya dapat kau hinggapi jika engkau mau." lontar seorang ibu-ibu rumahan, menyapa Ira yang bolak-balik dari masjid.

Ia hanya mengangguk, mengangguk lagi terhadap sapaan kanan kiri.
Dikesampingkannya tas selempang krem pucat, ia memilih sibuk menjinjing makanan pembuka hari ini. Buka bersama di masjid, bersama warga sekampung. Desa pinggiran itu seolah sedang senada dengan Ramadhan.

Suasana syahdu itu pecah, ketika pria berwajah kusam tiba meracau sambil berjalan cepat-cepat,
"Kau yang ribut saja daritadi, dungu! Kau yang ambil semuanya, bawa semuanya, buang semuanya!" Bibirnya yang kering tak arah mengatakan hal-hal yang kelewat akal.

"Kelewat akal? Manusia itu tak tahu sedang berbicara sama siapa! Bahkan, mungkin malaikat pun sedang bertanya pada kawannya!" Bade, sedari tadi tak tahan lagi dengan laki-laki itu pun ikut meracau pada Ira, mengeluarkan batu dalam hatinya.

Para warga di situ malah tenggelam dengan lamunan dan bisikannya sendiri. Laki-laki, tak habis pikir. Para wanita, bergosip.Yang ada, menyaksikan hadirnya laki-laki itu kembali berbuat ulah.
Memang bukan pertama. Tapi, mereka berharap ini yang terakhir.

"Kurang apa lagi si Iman? Keluarganya mati satu lagi kah? Borong hartaku! Aku tak punya apa-apa lagi, tapi dia punya uang!" keluh Bade.

"Mati?"

"Kakaknya, pejudi! Barangkali sekarang sudah hancur lagi tubuhnya diamuk teman-temannya, adiknya ikutan gila."

Mata Ira tertuju pada lelaki yang mengamuk tersebut, Iman.

"Ah, sudahlah, bukan urusanku. Lebih baik aku pergi saja mengambil sendok di rumah," acuh tak acuh Ira, meninggalkan kerumunan tersebut.

Maghrib tiba, muadzin menggemakan suaranya, syahdu. Warga-warga bersorak ria, mengabaikan laki-laki yang sedari tadi sedang menggila risau. Buru-buru dibukanya bungkus kurma, air putih, kolak pisang, disantap, hilang sudah sebagian dahaga dan laparnya.

"Giliranku! Aku belum sama-sekali menyicipinya!" Ira lari menuju masjid, kembali dari rumahnya.
Ia melewati laki-laki tak terurus tadi sejenak. Dilihatnya spontan mata cekung dan rambut gimbalnya. Ternyata ada yang seperti orang sakit jiwa di Ramadhan berkah ini.

Menghilang, laki-laki itu pergi meninggalkan para warga, walau ia terus meracau di jalannya, tapi suaranya padam, tertelan gurauan insan-insan yang menikmati berkah buka puasa.
Kakinya menderu tapi seolah gontai, badannya condong ke depan tapi lunglai. Di bulan puasa itu, tak ada yang acuh terhadapnya. Sedikitpun simpati tak tertanam dalam hati. Masyarakat sedang menghukum dia! Mereka memberi nyinyir-nyinyir tak anggun, gurauan tawa penghinaan.


-*-
Pagi menjelang, bulan bersembunyi kembali. Jalanan kembali sepi.
Hanya sapi-kambing yang melalu jalan, tanpa tuannya.

"Ada apa di sana?!" teriak Badri, lari tergopoh-gopoh bak orang kesetanan. Manusia-manusia yang tadi bersembunyi di dalam kediamannya nampak, bertanya-tanya kali ini 'kenapa si Badri?'

Menengok-nengok kanan kiri, Ira tak melihat yang janggal.

"Di sana, bukan di kanan-kirimu!" ujar si Badri, jarinya menunjuk-nunjuk ke arah rimba pohon pisang.
Para warga di sana bergegas pergi ke arah yang ditunjuk Badri.

Tangan-tangan mereka langsung menutup hidung.

Ya ampun! Bagaimana si Iman yang kemarin ngamuk kesetanan membusuk kena air danau?
Tak ada yang dapat menyangka, hari itu, tak ada yang sempat berduka pula dalam ricuh. Jijik! Mereka ingin muntah melihatnya. Dalam satu malam, dapatkah seperti itu?
Hujan datang, walau tak ada yang menangis. Sebab sedari kemarin, jenuh malam pertama berbuka, muadzin yang syahdu suaranya, warga yang kompak membuka ta'jil, sedang tertawa membuang sosok Iman di tengah suasana hangat tersebut.

***



PERTANYAAN

Cahaya bersinar di antara lika-liku malam
Yang sepi, dan menenggelamkan diriku
Akan batang-batang asa dan rindu
Menelusuri jejak-jejak daun rapuh
Yang dulu bersatu dengan ranting-ranting sendu
Kemanakah diriku pergi
Apakah bagian yang hilang, dapat kembali lagi?
Kemanakah akalku, merajuk
Apakah logikaku dapat mengais udara?
Kemanakah perasaanku, berjalan
Apakah hati dapat menuntun tubuh ini?

Dingin melewati sela-sela yang terjangkau angin,
Mengapa selalu ada pertanyaan,
di tengah labirin hidup,
dalam kesenduan,
kepahitan dan kesunyian yang ada?

Lentera - Prolog

Jumat, 09 Desember 2016
            Aku sensitif dengan kata hujan dan kemarau-- karena sejuknya hawa dan risihnya panas. Kalau boleh memilih; aku suka tengah-tengah saja. Biasa, normal. Kepribadian yang kata orang ganda, atau malah multipersona. Aku pernah dengar; tampang kita dalam hati setiap orang berbeda-beda. Dan kubuktikan itu benar dari sisi subjektif hidupku.

           Ah..jadi, kita mulai dari mana kisah ini? Kisah basa-basi yang kupendam. Untuk menyalakan api yang kian padam di tengah derasnya badai. Orang kecil di antara orang-orang besar dalam hati manusia. Ooh.. laptopku sayang! Aku telah terlalu banyak mengetik hal yang sia-sia dan menyimpang. Tak sesuai proporsi. Banyak--untungnya, hanya sedikit bahayanya. Hal yang sedikit berbahaya.. dan yang sedikitlah mengawali hal besar!

Makanya..aku harus berhati-hati dalam menulis sastra ini. Aku tak mau jatuh terperanjat dalam kubangan air musim hujan atau panasnya tanah kemarau. Nah, mulai saja.

Stop!
Sebelum itu, aku mau cerita suatu kisah, rubah yang mempunyai hati suci.

           Alkisah, di negeri damai, ada seekor rubah berwarna putih.. Ia berjalan-jalan, melewati lubang berisi endapan lumpur kotor. Rubah-rubah lain melihatnya dengan iri... mereka mengusili si rubah berhati suci! Menjebak si rubah dengan tali yang diikat di ujung-ujung batu dan pohon, tapi si rubah sedikit-sedikit tahu keusilan mereka. Kadang ia pun jatuh di lubang ketiga, lalu keempat, atau kelima, hingga keenam dan seterusnya! Energinya kian habis, habis, habis dan habis. Kakinya menghitam, begitu pula badannya akibat lumpur. Berapa lama ia berjalan? Arah mana yang ia tempuh? 'Oh diriku...' Rubah berbisik pada dirinya sendiri. Tak ada teman untuk berbagi, jadi dia sendirilah tempat berbagi. Hingga Ia bertemu pohon besar yang terlihat ramah--akhirnya dia berbagi kisah tentang pengusilan yang dilakukan sesama spesiesnya itu. 'Betapa sucinya hatimu..' ujar si pohon tua. Rubah berpikir pohon itu hanya memuji dan berkata tidak penting saja, jadi ia pergi jauh-jauh. Ia melanjutkan perjalanan yang penuh bisikan jahat yang menyakiti hati putihnya, yang memekik pita suara bajiknya, menghalau kaki-kaki bersihnya. Hingga suatu hari.. ia terperanjat dan terpeleset benaran ke lubang endapan lumpur yang paling dalam--sejauh perjalanannya! Kenalah kepalanya menjadi ikut hitam legam serupa lumpur kotor yang berbaur dengan air tak jernih juga sampah-sampah hutan. Ia berusaha bangkit dari endapan lengket itu. Bangkit, dan berlari lagi! Pikirannya dipenuhi kondisi tubuhnya. Hingga ia akhirnya bertanya...

"Aku pergi ke mana?"

***


Jumat, 10 Juli 2015
Dan ketika malam mulai datang, gemuruh angin-angin sunyi yang tak terdengar. Aku harap suaraku sampai kepadamu, hingga ke liang kalbu, walau derik-derik badai itu tak mengijinkanku berlalu.

Kain Penutup Mata

Selasa, 16 Juni 2015
Gelap.
Benda berwarna suci itu, benda yang begitu sakral.
Seonggok membawaku memberitahu bahwa dunia itu berisikan putih semata.
Walau yang kutengok adalah gelap semua.

 Kain penutup mata yang kami kenakan,
Ia tidak tebal juga tak tipis.
Bukankah hal pasti bahwa apapun ia ingin berbentuk,
Ujungnya kami yang tertutup.

Dan ketika itu,
Kami mengenakannya dengan begitu naas.
Tak ada yang meminta atau malah kami sendiri yang meminta--
Supaya kain tersebut tetap menutupi mata,
 Hingga gelap gempita adalah sebuah hal yang sunyi dalam keputihan yang suci.

Maka itulah apa yang ia kerjakan kepada kami.
Atau yang kami perlakukan.
 Kain itu masih berada di sana.
Menunggu dilepas oleh tangan-tangan yang sadarkan diri--untuk menguasai akal sepenuh-penuhnya tanpa hawa nafsu semata.

***