Kelam yang dimakan api fatamorgana, yang berjalan seiring waktu.. kadang membuatku tersedu. Di pojok-pojok dinding polos yang usang, berjalan semut-semut yang tak berakal sepertiku--tapi aku merasa aku begitu jahat ketimbang rentetan semut yang sekadar hewan.
"Rin, kamu udah selesain deadline untuk besok belum?" usik Ida sambil mengunyah kue apem di mulutnya.
"Santai aja lah. Nanti malem kan, bisa." jawabku santai..ah aku sudah menyelesaikan yang satu itu sedari minggu lalu. Cuma orang ini saja yang sok tahu, katanya aku semalas itu? Tidak..
Aku kan, orang paling telaten.
Cemilan yang dibawa Ida hanya mengganggu kamarku. Aku tahu makanan-makanan itu nanti hanya menyampah saja, dia tak akan membereskannya. Dia hanya menumpang satu-dua kali, lalu pergi.
Kadang aku berpikiran layaknya psycho. Tapi aku tak ingin menjadi sosok gila.
"Kau harus terbiasa sama pop mie yang cepat dibuat ketimbang kue apem yang setidaknya warung itu jauh dari rumahku, da. Berhenti membawanya ke sini, hanya mengalihkan kesenanganku saja." ujarku ketus.
Mukanya mengernyit mengatakan dengan isyarat khasnya,
'apa-salah-kue-apem?' atau mungkin 'itu-kan-bebas-aku-mau-makan-apa'
Aku sudah mengenalnya selama 2 tahun. Aku paling mengetahui dia.
Dia tak perlu menyembunyikan semuanya.
- bersambung
Malam Kelabu
Diposting oleh
Pioneer
di
09.38
Senin, 02 Januari 2017
(cerpen yang kubuat ketika Ramadhan tahun 2016-an, kemarin hanya menjadi draft.)
Ramadhan, 1437 H
Enggan Ira menetap, enggan ia terlelap. Bulan suci telah datang, orang berbondong-bondong pulang..
Kembali ke identitas mereka, pada malam mengusik itu.
"Antusias sekali malam ini, Ra! Bulan pun rasanya dapat kau hinggapi jika engkau mau." lontar seorang ibu-ibu rumahan, menyapa Ira yang bolak-balik dari masjid.
Ia hanya mengangguk, mengangguk lagi terhadap sapaan kanan kiri.
Dikesampingkannya tas selempang krem pucat, ia memilih sibuk menjinjing makanan pembuka hari ini. Buka bersama di masjid, bersama warga sekampung. Desa pinggiran itu seolah sedang senada dengan Ramadhan.
Suasana syahdu itu pecah, ketika pria berwajah kusam tiba meracau sambil berjalan cepat-cepat,
"Kau yang ribut saja daritadi, dungu! Kau yang ambil semuanya, bawa semuanya, buang semuanya!" Bibirnya yang kering tak arah mengatakan hal-hal yang kelewat akal.
"Kelewat akal? Manusia itu tak tahu sedang berbicara sama siapa! Bahkan, mungkin malaikat pun sedang bertanya pada kawannya!" Bade, sedari tadi tak tahan lagi dengan laki-laki itu pun ikut meracau pada Ira, mengeluarkan batu dalam hatinya.
Para warga di situ malah tenggelam dengan lamunan dan bisikannya sendiri. Laki-laki, tak habis pikir. Para wanita, bergosip.Yang ada, menyaksikan hadirnya laki-laki itu kembali berbuat ulah.
Memang bukan pertama. Tapi, mereka berharap ini yang terakhir.
"Kurang apa lagi si Iman? Keluarganya mati satu lagi kah? Borong hartaku! Aku tak punya apa-apa lagi, tapi dia punya uang!" keluh Bade.
"Mati?"
"Kakaknya, pejudi! Barangkali sekarang sudah hancur lagi tubuhnya diamuk teman-temannya, adiknya ikutan gila."
Mata Ira tertuju pada lelaki yang mengamuk tersebut, Iman.
"Ah, sudahlah, bukan urusanku. Lebih baik aku pergi saja mengambil sendok di rumah," acuh tak acuh Ira, meninggalkan kerumunan tersebut.
Maghrib tiba, muadzin menggemakan suaranya, syahdu. Warga-warga bersorak ria, mengabaikan laki-laki yang sedari tadi sedang menggila risau. Buru-buru dibukanya bungkus kurma, air putih, kolak pisang, disantap, hilang sudah sebagian dahaga dan laparnya.
"Giliranku! Aku belum sama-sekali menyicipinya!" Ira lari menuju masjid, kembali dari rumahnya.
Ia melewati laki-laki tak terurus tadi sejenak. Dilihatnya spontan mata cekung dan rambut gimbalnya. Ternyata ada yang seperti orang sakit jiwa di Ramadhan berkah ini.
Menghilang, laki-laki itu pergi meninggalkan para warga, walau ia terus meracau di jalannya, tapi suaranya padam, tertelan gurauan insan-insan yang menikmati berkah buka puasa.
Kakinya menderu tapi seolah gontai, badannya condong ke depan tapi lunglai. Di bulan puasa itu, tak ada yang acuh terhadapnya. Sedikitpun simpati tak tertanam dalam hati. Masyarakat sedang menghukum dia! Mereka memberi nyinyir-nyinyir tak anggun, gurauan tawa penghinaan.
-*-
Pagi menjelang, bulan bersembunyi kembali. Jalanan kembali sepi.
Hanya sapi-kambing yang melalu jalan, tanpa tuannya.
"Ada apa di sana?!" teriak Badri, lari tergopoh-gopoh bak orang kesetanan. Manusia-manusia yang tadi bersembunyi di dalam kediamannya nampak, bertanya-tanya kali ini 'kenapa si Badri?'
Menengok-nengok kanan kiri, Ira tak melihat yang janggal.
"Di sana, bukan di kanan-kirimu!" ujar si Badri, jarinya menunjuk-nunjuk ke arah rimba pohon pisang.
Para warga di sana bergegas pergi ke arah yang ditunjuk Badri.
Tangan-tangan mereka langsung menutup hidung.
Ya ampun! Bagaimana si Iman yang kemarin ngamuk kesetanan membusuk kena air danau?
Tak ada yang dapat menyangka, hari itu, tak ada yang sempat berduka pula dalam ricuh. Jijik! Mereka ingin muntah melihatnya. Dalam satu malam, dapatkah seperti itu?
Hujan datang, walau tak ada yang menangis. Sebab sedari kemarin, jenuh malam pertama berbuka, muadzin yang syahdu suaranya, warga yang kompak membuka ta'jil, sedang tertawa membuang sosok Iman di tengah suasana hangat tersebut.
***
Ramadhan, 1437 H
Enggan Ira menetap, enggan ia terlelap. Bulan suci telah datang, orang berbondong-bondong pulang..
Kembali ke identitas mereka, pada malam mengusik itu.
"Antusias sekali malam ini, Ra! Bulan pun rasanya dapat kau hinggapi jika engkau mau." lontar seorang ibu-ibu rumahan, menyapa Ira yang bolak-balik dari masjid.
Ia hanya mengangguk, mengangguk lagi terhadap sapaan kanan kiri.
Dikesampingkannya tas selempang krem pucat, ia memilih sibuk menjinjing makanan pembuka hari ini. Buka bersama di masjid, bersama warga sekampung. Desa pinggiran itu seolah sedang senada dengan Ramadhan.
Suasana syahdu itu pecah, ketika pria berwajah kusam tiba meracau sambil berjalan cepat-cepat,
"Kau yang ribut saja daritadi, dungu! Kau yang ambil semuanya, bawa semuanya, buang semuanya!" Bibirnya yang kering tak arah mengatakan hal-hal yang kelewat akal.
"Kelewat akal? Manusia itu tak tahu sedang berbicara sama siapa! Bahkan, mungkin malaikat pun sedang bertanya pada kawannya!" Bade, sedari tadi tak tahan lagi dengan laki-laki itu pun ikut meracau pada Ira, mengeluarkan batu dalam hatinya.
Para warga di situ malah tenggelam dengan lamunan dan bisikannya sendiri. Laki-laki, tak habis pikir. Para wanita, bergosip.Yang ada, menyaksikan hadirnya laki-laki itu kembali berbuat ulah.
Memang bukan pertama. Tapi, mereka berharap ini yang terakhir.
"Kurang apa lagi si Iman? Keluarganya mati satu lagi kah? Borong hartaku! Aku tak punya apa-apa lagi, tapi dia punya uang!" keluh Bade.
"Mati?"
"Kakaknya, pejudi! Barangkali sekarang sudah hancur lagi tubuhnya diamuk teman-temannya, adiknya ikutan gila."
Mata Ira tertuju pada lelaki yang mengamuk tersebut, Iman.
"Ah, sudahlah, bukan urusanku. Lebih baik aku pergi saja mengambil sendok di rumah," acuh tak acuh Ira, meninggalkan kerumunan tersebut.
Maghrib tiba, muadzin menggemakan suaranya, syahdu. Warga-warga bersorak ria, mengabaikan laki-laki yang sedari tadi sedang menggila risau. Buru-buru dibukanya bungkus kurma, air putih, kolak pisang, disantap, hilang sudah sebagian dahaga dan laparnya.
"Giliranku! Aku belum sama-sekali menyicipinya!" Ira lari menuju masjid, kembali dari rumahnya.
Ia melewati laki-laki tak terurus tadi sejenak. Dilihatnya spontan mata cekung dan rambut gimbalnya. Ternyata ada yang seperti orang sakit jiwa di Ramadhan berkah ini.
Menghilang, laki-laki itu pergi meninggalkan para warga, walau ia terus meracau di jalannya, tapi suaranya padam, tertelan gurauan insan-insan yang menikmati berkah buka puasa.
Kakinya menderu tapi seolah gontai, badannya condong ke depan tapi lunglai. Di bulan puasa itu, tak ada yang acuh terhadapnya. Sedikitpun simpati tak tertanam dalam hati. Masyarakat sedang menghukum dia! Mereka memberi nyinyir-nyinyir tak anggun, gurauan tawa penghinaan.
-*-
Pagi menjelang, bulan bersembunyi kembali. Jalanan kembali sepi.
Hanya sapi-kambing yang melalu jalan, tanpa tuannya.
"Ada apa di sana?!" teriak Badri, lari tergopoh-gopoh bak orang kesetanan. Manusia-manusia yang tadi bersembunyi di dalam kediamannya nampak, bertanya-tanya kali ini 'kenapa si Badri?'
Menengok-nengok kanan kiri, Ira tak melihat yang janggal.
"Di sana, bukan di kanan-kirimu!" ujar si Badri, jarinya menunjuk-nunjuk ke arah rimba pohon pisang.
Para warga di sana bergegas pergi ke arah yang ditunjuk Badri.
Tangan-tangan mereka langsung menutup hidung.
Ya ampun! Bagaimana si Iman yang kemarin ngamuk kesetanan membusuk kena air danau?
Tak ada yang dapat menyangka, hari itu, tak ada yang sempat berduka pula dalam ricuh. Jijik! Mereka ingin muntah melihatnya. Dalam satu malam, dapatkah seperti itu?
Hujan datang, walau tak ada yang menangis. Sebab sedari kemarin, jenuh malam pertama berbuka, muadzin yang syahdu suaranya, warga yang kompak membuka ta'jil, sedang tertawa membuang sosok Iman di tengah suasana hangat tersebut.
***
PERTANYAAN
Diposting oleh
Pioneer
di
09.30
Cahaya bersinar di antara lika-liku malam
Yang sepi, dan menenggelamkan diriku
Akan batang-batang asa dan rindu
Menelusuri jejak-jejak daun rapuh
Yang dulu bersatu dengan ranting-ranting sendu
Kemanakah diriku pergi
Apakah bagian yang hilang, dapat kembali lagi?
Kemanakah akalku, merajuk
Apakah logikaku dapat mengais udara?
Kemanakah perasaanku, berjalan
Apakah hati dapat menuntun tubuh ini?
Dingin melewati sela-sela yang terjangkau angin,
Mengapa selalu ada pertanyaan,
di tengah labirin hidup,
dalam kesenduan,
kepahitan dan kesunyian yang ada?
Yang sepi, dan menenggelamkan diriku
Akan batang-batang asa dan rindu
Menelusuri jejak-jejak daun rapuh
Yang dulu bersatu dengan ranting-ranting sendu
Kemanakah diriku pergi
Apakah bagian yang hilang, dapat kembali lagi?
Kemanakah akalku, merajuk
Apakah logikaku dapat mengais udara?
Kemanakah perasaanku, berjalan
Apakah hati dapat menuntun tubuh ini?
Dingin melewati sela-sela yang terjangkau angin,
Mengapa selalu ada pertanyaan,
di tengah labirin hidup,
dalam kesenduan,
kepahitan dan kesunyian yang ada?
Langganan:
Postingan (Atom)
Total Pageviews
Popular Posts
-
Aku sensitif dengan kata hujan dan kemarau-- karena sejuknya hawa dan risihnya panas. Kalau boleh memilih; aku suka tengah-tenga...
-
Gelap. Benda berwarna suci itu, benda yang begitu sakral. Seonggok membawaku memberitahu bahwa dunia itu berisikan putih semata. Walau ya...
-
K elam yang dimakan api fatamorgana, yang berjalan seiring waktu.. kadang membuatku tersedu. Di pojok-pojok dinding polos yang usang, berjal...
-
When i look again at my whole, it all seems black. Although the world i know is definitely composed by black and white-- but as i grow older...
-
Dan ketika malam mulai datang, gemuruh angin-angin sunyi yang tak terdengar. Aku harap suaraku sampai kepadamu, hingga ke liang kalbu, walau...
-
( cerpen yang kubuat ketika Ramadhan tahun 2016-an, kemarin hanya menjadi draft. ) Ramadhan, 1437 H Enggan Ira menetap, enggan ia terle...
-
Cahaya bersinar di antara lika-liku malam Yang sepi, dan menenggelamkan diriku Akan batang-batang asa dan rindu Menelusuri jejak-jejak da...