Kain Penutup Mata

Selasa, 16 Juni 2015
Gelap.
Benda berwarna suci itu, benda yang begitu sakral.
Seonggok membawaku memberitahu bahwa dunia itu berisikan putih semata.
Walau yang kutengok adalah gelap semua.

 Kain penutup mata yang kami kenakan,
Ia tidak tebal juga tak tipis.
Bukankah hal pasti bahwa apapun ia ingin berbentuk,
Ujungnya kami yang tertutup.

Dan ketika itu,
Kami mengenakannya dengan begitu naas.
Tak ada yang meminta atau malah kami sendiri yang meminta--
Supaya kain tersebut tetap menutupi mata,
 Hingga gelap gempita adalah sebuah hal yang sunyi dalam keputihan yang suci.

Maka itulah apa yang ia kerjakan kepada kami.
Atau yang kami perlakukan.
 Kain itu masih berada di sana.
Menunggu dilepas oleh tangan-tangan yang sadarkan diri--untuk menguasai akal sepenuh-penuhnya tanpa hawa nafsu semata.

***

0 komentar:

Posting Komentar