Gelap.
Benda berwarna suci itu, benda yang begitu sakral.
Seonggok membawaku memberitahu bahwa dunia itu berisikan putih semata.
Walau yang kutengok adalah gelap semua.
Kain penutup mata yang kami kenakan,
Ia tidak tebal juga tak tipis.
Bukankah hal pasti bahwa apapun ia ingin berbentuk,
Ujungnya kami yang tertutup.
Dan ketika itu,
Kami mengenakannya dengan begitu naas.
Tak ada yang meminta atau malah kami sendiri yang meminta--
Supaya kain tersebut tetap menutupi mata,
Hingga gelap gempita adalah sebuah hal yang sunyi dalam keputihan yang suci.
Maka itulah apa yang ia kerjakan kepada kami.
Atau yang kami perlakukan.
Kain itu masih berada di sana.
Menunggu dilepas oleh tangan-tangan yang sadarkan diri--untuk menguasai akal sepenuh-penuhnya tanpa hawa nafsu semata.
***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Total Pageviews
Popular Posts
-
Aku sensitif dengan kata hujan dan kemarau-- karena sejuknya hawa dan risihnya panas. Kalau boleh memilih; aku suka tengah-tenga...
-
Gelap. Benda berwarna suci itu, benda yang begitu sakral. Seonggok membawaku memberitahu bahwa dunia itu berisikan putih semata. Walau ya...
-
K elam yang dimakan api fatamorgana, yang berjalan seiring waktu.. kadang membuatku tersedu. Di pojok-pojok dinding polos yang usang, berjal...
-
When i look again at my whole, it all seems black. Although the world i know is definitely composed by black and white-- but as i grow older...
-
Dan ketika malam mulai datang, gemuruh angin-angin sunyi yang tak terdengar. Aku harap suaraku sampai kepadamu, hingga ke liang kalbu, walau...
-
( cerpen yang kubuat ketika Ramadhan tahun 2016-an, kemarin hanya menjadi draft. ) Ramadhan, 1437 H Enggan Ira menetap, enggan ia terle...
-
Cahaya bersinar di antara lika-liku malam Yang sepi, dan menenggelamkan diriku Akan batang-batang asa dan rindu Menelusuri jejak-jejak da...
0 komentar:
Posting Komentar