Lentera - Prolog

Jumat, 09 Desember 2016
            Aku sensitif dengan kata hujan dan kemarau-- karena sejuknya hawa dan risihnya panas. Kalau boleh memilih; aku suka tengah-tengah saja. Biasa, normal. Kepribadian yang kata orang ganda, atau malah multipersona. Aku pernah dengar; tampang kita dalam hati setiap orang berbeda-beda. Dan kubuktikan itu benar dari sisi subjektif hidupku.

           Ah..jadi, kita mulai dari mana kisah ini? Kisah basa-basi yang kupendam. Untuk menyalakan api yang kian padam di tengah derasnya badai. Orang kecil di antara orang-orang besar dalam hati manusia. Ooh.. laptopku sayang! Aku telah terlalu banyak mengetik hal yang sia-sia dan menyimpang. Tak sesuai proporsi. Banyak--untungnya, hanya sedikit bahayanya. Hal yang sedikit berbahaya.. dan yang sedikitlah mengawali hal besar!

Makanya..aku harus berhati-hati dalam menulis sastra ini. Aku tak mau jatuh terperanjat dalam kubangan air musim hujan atau panasnya tanah kemarau. Nah, mulai saja.

Stop!
Sebelum itu, aku mau cerita suatu kisah, rubah yang mempunyai hati suci.

           Alkisah, di negeri damai, ada seekor rubah berwarna putih.. Ia berjalan-jalan, melewati lubang berisi endapan lumpur kotor. Rubah-rubah lain melihatnya dengan iri... mereka mengusili si rubah berhati suci! Menjebak si rubah dengan tali yang diikat di ujung-ujung batu dan pohon, tapi si rubah sedikit-sedikit tahu keusilan mereka. Kadang ia pun jatuh di lubang ketiga, lalu keempat, atau kelima, hingga keenam dan seterusnya! Energinya kian habis, habis, habis dan habis. Kakinya menghitam, begitu pula badannya akibat lumpur. Berapa lama ia berjalan? Arah mana yang ia tempuh? 'Oh diriku...' Rubah berbisik pada dirinya sendiri. Tak ada teman untuk berbagi, jadi dia sendirilah tempat berbagi. Hingga Ia bertemu pohon besar yang terlihat ramah--akhirnya dia berbagi kisah tentang pengusilan yang dilakukan sesama spesiesnya itu. 'Betapa sucinya hatimu..' ujar si pohon tua. Rubah berpikir pohon itu hanya memuji dan berkata tidak penting saja, jadi ia pergi jauh-jauh. Ia melanjutkan perjalanan yang penuh bisikan jahat yang menyakiti hati putihnya, yang memekik pita suara bajiknya, menghalau kaki-kaki bersihnya. Hingga suatu hari.. ia terperanjat dan terpeleset benaran ke lubang endapan lumpur yang paling dalam--sejauh perjalanannya! Kenalah kepalanya menjadi ikut hitam legam serupa lumpur kotor yang berbaur dengan air tak jernih juga sampah-sampah hutan. Ia berusaha bangkit dari endapan lengket itu. Bangkit, dan berlari lagi! Pikirannya dipenuhi kondisi tubuhnya. Hingga ia akhirnya bertanya...

"Aku pergi ke mana?"

***


0 komentar:

Posting Komentar