Arin & Ida (1a)

Minggu, 11 Juni 2017
Kelam yang dimakan api fatamorgana, yang berjalan seiring waktu.. kadang membuatku tersedu. Di pojok-pojok dinding polos yang usang, berjalan semut-semut yang tak berakal sepertiku--tapi aku merasa aku begitu jahat ketimbang rentetan semut yang sekadar hewan.

"Rin, kamu udah selesain deadline untuk besok belum?" usik Ida sambil mengunyah kue apem di mulutnya.

"Santai aja lah. Nanti malem kan, bisa." jawabku santai..ah aku sudah menyelesaikan yang satu itu sedari minggu lalu. Cuma orang ini saja yang sok tahu, katanya aku semalas itu? Tidak..

Aku kan, orang paling telaten.

Cemilan yang dibawa Ida hanya mengganggu kamarku. Aku tahu makanan-makanan itu nanti hanya menyampah saja, dia tak akan membereskannya. Dia hanya menumpang satu-dua kali,  lalu pergi.
Kadang aku berpikiran layaknya psycho. Tapi aku tak ingin menjadi sosok gila.

"Kau harus terbiasa sama pop mie yang cepat dibuat ketimbang kue apem yang setidaknya warung itu jauh dari rumahku, da. Berhenti membawanya ke sini, hanya mengalihkan kesenanganku saja." ujarku ketus.

Mukanya mengernyit mengatakan dengan isyarat khasnya,
'apa-salah-kue-apem?' atau mungkin 'itu-kan-bebas-aku-mau-makan-apa'

Aku sudah mengenalnya selama 2 tahun. Aku paling mengetahui dia.
Dia tak perlu menyembunyikan semuanya.


- bersambung